Sabtu, 28 Desember 2013

Pengertian, Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan



Pengertian, Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan

     Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Lingkungan keluarga sering dipandang sebagai  lingkungan pendidikan yang pertama dan yang utama. Makin bertambah usia manusia, peranan sekolah dan masyarakat luas semakin penting, namun keluarga tidak pernah terputus. Didalam Undang-Undang RI No.2 Tahun 1989 tentang SISDIKNAS, peranan ketiga tri pusat pendidikan itu  menjiwai berbagai ketentuan di dalamnya. Sedangkan penjelasan UU no.2 Tahun 1989 itu menetapkan tentang tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pemahaman peranan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan itu akan sangat penting dalam upaya membantu perkembangan peserta didik yang optimal. Sebab pada hakekatnya peranan ketiga pusat pendidikan itu selalu secara bersama-sama mempengaruhi manusia, meskipun dengan bobot pengaruh yang bervariasi sepanjang hidup manusia.
A.    PENGERTIAN DAN FUNGSI LINGKUNGAN PENDIDIKAN
     Menurut Sartain (ahli psikologi Amerika), yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara -cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes. Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosialLingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan(pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan.
Dalam latar belakang tempat berlangsungnya  pendidikan itu disebut lingkungan pendidikan, khususnya ada tiga lingkungan utama pendidikan yakni keluarga, sekolah dan masyrakat (Umar tirtaraharja et.al., 1990:39-40)..Biasanya berdasarkan ciri-cirinya ketiganya biasa dibedakan menjadi pendidikan informal, formal dan non-formal. Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan keluarga dan berlangsung secara alamiah dan wajar disebut pendidikan informal. Kemudian pendidikan disekolah adalah pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakaan dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut pendidikan formal. Lalu pendidikan di lingkungan masyarakat (seperti kursus dan kelompok belajar) tidak dipersyaratkan berjenjang dan berkesinambungan, serta dengan aturan-aturan yang lebih longgar disebut dengan pendidikan non formal. Pendidikan informal, formal dan nonformal itu sering dipandang sebagai subsistem dari sistem pendidikan (Umar Tirtaraharja et.al., 1990:13-15), serta secara bersama-sama menjadikan pendidikan berlangsung seumur hidup (Cropley, 1979:3).
Kemudian sebagai pelaksanaan Pasal 31 Ayat 2 dari UUD 1945, telah ditetapkan UU-RI No.2 Tahun 1989 tentang SISDIKNAS (beserta peraturan pelaksanaannya) yang menata kembali pendidikan di Indonesia, termasuk lingkungan pendidikan. SISDIKNAS itu membedakan dua jalur pendidikan yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luarn sekolah. Jalur pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang berjenjang dan berkesinambungan, mulai dari pendidikan pra sekolah (TK), pendidikan dasar (SD dan SMP/sederajat), pendidikan menengah (SMA dan SMK/sederajat) dan perguruan tinggi. Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan, baik yang dilembagakan ataupun tidak, yang meliputi pendidikan keluarga, pendidikan prasekolah (seperti kelompok bermain dan penitipan anak), kursus, kelompok belajar, dan sebagainya.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Perlu pula dikemukakan bahwa pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui tiga kegiatan yakni membimbing, mengajar dan/atau melatih (Ayat 1 Pasal 1 dari UU-RI No.2/1989). Meskipun ketiga kegiatan itu pada hakekatnya tritunggal, namun dapat dibedakan aspek tujuan pokok ketiganya yakni (1) membimbing terutama berkaitan dengan pemantapan jati diri, pribadi dari segi-segi prilaku umum, (2) mengajar terutama berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, dan (3) melatih terutama berkaitan dengan keterampilan dan kemahiran (aspek teknologi).

B.    TRIPUSAT PENDIDIKAN
     Sepanjang hidupnya manusia akan selalu menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama yakni keluarga, sekolah dan masyarakat, menurut Ki Hajar Dewantara ketiga lingkungan tersebut yang disebut tripusat pendidikan. Pada masyarakat yang masih sederhana dengan struktur sosial yang masih belum kompleks, cakrawala anak masih sebagian besar masih terbatas pada keluarga. Pada masyarakat tersebut keluarga mempunyai dua fungsi yakni fungsi produksi dan fungsi konsumsi. Kedua fungsi itu mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap anak. Kehidupan anak di masa depan pada masyarakat tradisional tentunya tidak akan jauh dari kehidupan orang tuanya. Namun pada masyarakat modern kedua fungsi hal tersebut berangsur-angsur di ambila alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya.
Meskipun keluarga kehilangan sejumlah fungsi yang ssemula menjadi tanggung jawabnya, namun keluarga maasih tetap merupakan lembaga yang penting dalam proses sosialisai anak, karena keluarga yang memberikan tuntunan dan contoh-contoh semenjak masa anak sampai dewasa dan berdiri sendiri. Perubahan sifat hubungan orang tua dengan anaknya itu (keluarga), akan diiringi pula dengan perubahan hubungan guru dan siswanya (sekolah) serta didukung oleh iklim keterbukaan yang demokratis dalam masyarakat. Dengan kata lain, terdapat saling pengaruh antar ketiga pusat pendidikan itu.

1.     Keluarga
     Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.  Keluarga itu dapat berbentuk  kelurga inti (nucleus family: ayah, ibu dan anak), ataupun leluarga yang diperluas (disamping keluarga inti, ada orang lain: kakek/nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain). Pada umumnya jenis kedualah yang banyak ditemui dalam kekuarga Indonesia. Meskipun ibu merupakan anggota keluarga yang mula-mulanya paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, namun pada akhirnya seluruh angguta keluarga itu ikut berinteraksi dengan anak. Disamping faktor iklim sosial itu, faktor-faktor lain dalam keluarga itu ikut pula mempengaruhi tumbuh kembangnya anak, seperti kebudayaan, tingkat kemakmuran, keadaan perumahaannya, dan sebagainya.
Seperti yang telah dikemukakan pada mulanya, keluarga yang terutama berperan baik pada aspek pembudayaan, maupun penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Dengan meningkatnya kebutuhan dan aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidak mampu memenuhinya. Oleh karena itu, sebagian dari tujuan pendidikan itu akan dicapai melalui jalur pendidikan sekolah maupun  jalur pendidikan luar sekolah lainnya (kursus,  kelompok belajar dan sebagainya). Baahkan peran jalur pendidikan sekolah semakin lama semakin penting, khususnya yang berkaitan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan. Hal itu tidak berarti bahwa keluarga dapat melepaskan diri dari tanggung jawab pendidikan anaknya itu, karena keluarga diharapkan bekerja sama dan mendukung pusat pendidikan lainnya (sekolah dan masyarakat).
Fungsi peranan keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat, dalam SISDIKNAS Indonesia tidak hanya terbatas pada pendidikan keluarga saja, akan tetapi keluarga ikut serta bertanggung jawab terhadap pendidikan lainnya. Khusus untuk pendidikan keluarga, terdapat beberapa ketentuan dalam UU-RI No.2 tahun 1989 tentang SISDIKNAS yang menegaskan fungsi dan peranan keluarga dalam mencapai tujuan pendidikann yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan (Pasal 10 ayat 4). Selanjutnya, dalam dalam ppenjelasan Ayat 5 Pasal 10 ditegaskan bahwa Pemerintah mengakui kemandirian keluarga untuk melaksanakan upaya pendidikan dalam lingkungannya sendiri.
Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang (pendidikan individual) maupun pendidikan sosial. Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi kanak-kanak tapi juga bagi para remaja. Mereka senantiasa melakukan usaha yang sebaik-baiknya untuk kemajuan anak-anaknya. Memang manusia mempunyai naluri pedagogis, yang berarti bahwa buat ibu/bapak prilaku pendidikan itu akibat “naluri” untuk melanjutkan keturunan (Ki Haja Dewantara, 1962; dari Wayan Ardhana, 1986: Modul 4/5-6). Jelaslah lingkungan keluarga bukannya pusat penanaman dasar pendidikan watak pribadi saja, tetapi pendidikan sosial. Didalam keluargalah tempat menanam dasar pembentukan anak-anak, Decroly pernah mengemukakan bahwa hamper 70 persen dari anak-anak yang jatuh ke jurang kejahatan berasal dari keluarga yang rusak kehidupannya. Oleh karena itu untuk memperbaiki keadaan masyarakat maka perlu adanya perbaikan dalam pendidikan keluarga (Wayan Ardhana, 1986: Modul 4/10-11).
Namun beberapa tahun terakhir ini terdapat suatu masalah yang banyak dibicarakan orang, yakni makin banyaknya wanita yang ikut bekerja di luar rumah. Sehingga tidak jarang terjadi, baik ayah maupun ibu sama-sama membina karir masing-masing sehingga mengharuskan berada di luar rumah dalam beberapa jam pada hampir setiap hari kerja. Dengan demikian, dapat membawa masalah apabila keluarga mempunyai anak balita. Peran pemeliharaan fisik mungkin dapat dilakukan oleh orang lain, namun peran edukatif dari ibu sulit disubtitusi oleh orang lain, utamanya pembantu rumah tangga. Seperti ternyata di masyarakat, pembantu rumah tangga umumnya berasal dari lapisan dengan tingkat pendidikan dan mutu sosial budaya yang relatif rendah. Kecenderungan lain adalah berkembangnya lembaga pendidikan prasekolah pada jalur luar sekolah seperti kelompok bermain dan tempat penitipan anak. Di masa depan, peran pembantu rumah tangga dalam pendidikan keluarga maupun fungsi edukatif dari kelompok bermain dan tempat penitipan anak perlu mendapat perhatian, agar dapat diyakinkan kontribusinya dalam mewujudkan sumber daya yang bermutu. Dan tentunya fungsi-fungsi pendidikan keluarga tersebut tetap tercapai. Adapun pendidikan keluarga (informal) berfungsi:
·         Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
·         Menjamin kehidupan emosional anak
·         Menanamkan dasar pendidikan moral
·         Memberikan dasar pendidikan sosial.
·         Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.

2.     Sekolah
  Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakat itu. Dari siss lain, sekolah juga menerima banyak kritik atas berbagai kelemahan dan kekurangannya, yang mencapai puncaknya dengan gagasan Ivan Illich untuk membebaskan masyarakat dari wajib ssekolah dengan bukunya yang terkenal : Bebas dari sekolah (Deschooling Society,1972/1982). Oleh karena itu, kajian ini terutama diarahkan pada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peranan dan fungsi sekolah untuk tangtangan.0leh karena itu, sekolah seharusnya menjadi pusat pendidikan untuk menyiapakan manusia-manusia sebagai individu, warga masyarakat, warga Negara dan warga dunia di masaa depan. Sekolah yang demikianlah yang diharapkan mampu melaksanakan fungsi pendidikan secara optimal, yakni mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur, serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (UU-RI No.2 Tahun 1989 butir Menimbang Ayat 6).
Salah satu alternative yang mungkin dilakukan disekolah untuk melaksanakan kebijakan nasional itu adalah secara bertahap mengembangkan sekolah menjadi suatu tempat pusat latihan (training centre) manusia Indonesia di masa depan. Dengan demikian pendidikan disekolah seyogyanya secara seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan, penguasaan pengetahuan, dan pemilikan keterampilan peserta didik.
Suatu alternative yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah, antara lain:
A. Pengajaran yang mendidik, yakni pengajaran yang secara serentak memberi peluang pencapaian tujuan intruksional bidang studi dan tujuan-tujuan umum pendidikan lainnya. Didalam upaya mewujudkan pengajaran yang mendidik, perlu pula dikemukakan bahwa setiap keputusan dan tindakan guru dalam rangka kegiatan belajar mengajar akan membawa berbagai dampak atau efek kepada siswa, baik efek instruksional (instructional effect) maupun efek pengiring (nurturant effect). Efek intruksional merupakan efek langsung dari bahan ajaran yang menjadi isi pesan dari belajar-mengajar; efek instruksional ini terutama ditunjukkan untuk mencapai tujuan instruksional, khusunya tujuan intruksional khusus (TIK). Sedangkan efek pengiring merupakan efek tidak langsung dari bahan ajaran dan atau pengalaman belajar yang dihayati oleh siswa sebagai akibat dari strategi belajar-mengajar yang menjadi landasan dari kegiataan belajar-mengajar tersebut. Efek pengiring itu pada umumnya karena siswa “menghidupi” (to live in) atau terlibat secara bermakna didalam suatu pengalaman belajar tertentu, yang pada umumnya tertuju pada pencapaian tujuan-tujuan pendidikan yang lebih umum dan fundamental serta berjangka panjang.
Berdasarkan hal tersebut betapa sangat pentingnya kegiatan belajar-mengajar yang akan dihayati oleh siswa sebagai pengalaman belajarnya. Meskipun pengalaman belajar itu merupakan sesuatu yang unik dan kompleks, tetapi dapat dibedakan dalaam tiga jenis sesuai dengan sasaran pembentukan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Secara singkat, ketiga tujuan jenis pengalaman belajar tersebut (Raka Joni, 1985: 14; Sulo Lipu La Sulo, 1990: 54) adalah:
1) Pengkajian untuk pembentukan pengetahuan-pemahaman, yang seyogyanya diwujudkan secara utuh, baik hasilnya (fakta, pengertian, kaidah dan sebagainya) maupun prosesnya. Untuk maksud tersebut, pengalaman belajar harus dirancang dan dilaksanakan dalam bentuk yang beraneka ragam, seperti:
a. Dari segi caranya: mendengarkanceramah, membaca buku, berdiskusi, melakukan pengamatan langsung atau percobaan laboratorium, dan sebagainya.
b. Dari segi peranan subyek didik didalam pengolahan pesan (apa yang dipelajarinya): ekspositorik yakni pesan diolah hanya oleh guru, ataukah heuristik/problematik yakni pesan diolah bersama oleh guru dan siswa.
c. Dari segi cara pengolahan pesan: deduktif (dari umum ke khusus) ataukah induktif (dari khusus ke umum).
d. Dari segi pengaturan subyek didik: kelompok besar (klasikal), kelompok kecil, ataukah perseorangan (individual).
2) Latihan untuk sasaran pembentukan ketrampilan (fisik, sosial, maupun intelektual). Pembentukan keterampilan itu memerlukan perbuatan langsung, baik dalam situasi nyata maupun simulatif, disertai dengan pemberian umpan balik (feedback) yang spesifik dan segera.
3) Penghayatan kegiatan/peristiwa sarat nilai untuk sasaran pembentukan nilai dan sikap (afektif), dengan perlibatan secara langsung, baik sebagai pelaku maupun penerima perlakuan.
Seiring dengan itu, pemberian prakarsa dan tanggung jawab sedini mungkin kepada siswa dalam kegiatan belajar-mengajar akan memupuk kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri yang terus-menerus , yang pada gilirannya kelak akan sangat penting dalam upaya membangun dirinya sendiri. Dengan demikian diharapkan dapat mewujudkan suatu masyarakat belajar sebagai upaya penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

B. Peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (BP) disekolah, agar progam edukatif ini tidak sekedar suplemen tetapi menjadi komplemen yang setara dengan program pengajaran serta program-program lainnya di sekolah. Seperti diketahui, bidang garapan program BP adalah perkembangan pribadi peserta didik, khususnya aspek sikap dan prilaku atau kawasan afektif. Selain itu pengembangan kepribadian ke arah penyadaran jati diri sebagai manusia Indonesia merupakan sisi lain dari tujuan pendidikan, di samping penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi; bahkan Fuad Hassan mengemukakan bahwa pemantapan kesejatian diri lebih penting dari pada apa yang tergolong sebagai milik  (penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi)(Fuad Hassan, 1986: 40). Pendidikan afektif dapat diawali dengan kajian tentang nilai dan sikap yang seharusnya dikejar  lebih jauh dalam perwujudan kehidupan sehari-hari, khususnya selama berada disekolah. Sekolah seyogyanya dikembangkan menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan yang mencerminkan suatu masyarakat Pancasilais.

C. Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB), yang mengelola bukan hanya bahan pustaka tetapi juga berbagai sumber belajar lainnya, baik sumber belajar yang di rancang maupun yang di manfaatkan. Dengan kedudukan sebagai PSB diharapkan peranannya akan lebih aktif dalam mendukung program pengajaran, bahkan dapat berperan sebagai “mitra kelas” dalam upaya menjawab tantangan perkembangan IPTEK yang semakin cepat. Dengan penyediaaan berbagai perangkat lunak yang didukung oleh perangkat keras yang memedai, khususnya berbagai bahan belajar mandiri seperti modul, rekaman elektronik baik audio (ATR) maupun video (VTR), dan sebagainya akan sangat penting bkan hanya peserta didik tetapi juga terhadap pelaksanaan tugas tenaga pendidikan lainnya (khususnya guru). Pengembangan PSB itu dapat dilakukan secara bertahap sehingga pada akhirnya dapat berperan ganda yakni sebagai “mitra kelas” dalam proses belajar-mengajar dantempat pengkajian berbagai perkembangan system instruksional. Suatu PSD yang memadai akan dapat mendorong siswa dan warga sekolah untuk belajar mandiri.

D. Peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah, khususnya yang terkait dengan peserta didik. Pengelola sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan seharusnya merupakan refleksi dari suaatu masyarakat pancasialais sebagai mana yang di cita-citakan dalam tujuan nasional. Gaya pekerja pengelola pada umumnya, khususnya pengelola kesiswaan, akan sangat berpengaruh bukan hanya melalui kebijakannya tetapi juga aspek keteladanannya. Ketiga alternative upaya yang telah dipaparkan diatas (Butir dan hanya mungkin terlaksana apabila mendapat dukungan sarana/prasarana maupun dukungan iklim professional yang memadai khusus pengelolaan keesiswaan, agar diterapkan asas tut wuri handayani dengan tidak mengabaikan ing ngarsa sung tulada dan ing madya magun karsa. Dengan demikian iklim kehidupan di sekolah mencerminkan kehidupan di masyarakat yang di cita-citakan , yakni masyarakat demokratis yang dinamis dan terbuka.

Akhirnya perlu pula dikemukakan tentang siswa sebagai masukan dalam system persekolahan, utamanya tentang kesesuaian kemampuan potensial dengan jenis dan jenjang yang di cita-citakan. Kebutuhan masyarakat akan tenaga pembangunan yang bermutu, baik padalapis pelaksana maupun pada lapis perencana dan pemikir akan sama pentingnya sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Dengan demikian, bangsa Indonesia tidak hanya mampu sewasembada ketenagakerjaan tetapi juga mampu mengekspornya.



3.     Masyarakat
  Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat di tinjau dari beberpa segi, yakni:
a. Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan (jalur sekolah dan jalur luar sekolah) maupun yangtidak dilembagakan (luar sekolah),
b. Lembaga-lembaga kemasyarakatan  dan atau kelompok social di masyarakat di masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung, ikut mempunyaiperan dan fungsi edukatif.
c. Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by desain) maupun yang di manfaatkan (utility). Perlu pula diingat bahwa manusia dalam bekerja dan hidup sehari-hari akan selalu berupaya memperoleh manfaat dari pengalaman  hidupnya itu untuk meningkatkan dirinya. Dengan kata lain, manusia berusaha mendidik dirinya sendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia di masyarakatnya dalam bekerja, bergaul, dan sebagainya.

Dari tiga hal tersebut diatas, yang kedua dan ketigaah yang terutama menjadi kawasan dari kajian masyarakat sebagai pusat pendidikan. Namun perlu ditekankan bahwa tiga hal tersebut hanya dapat dibedakan, sedangkan dalam kenyataan sukar dipisahkan.

Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu beserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya. Untuk Indonesia, perkembangan masyarakat itu sangat bervariasi, sehingga wujud sosial kebudayaan dalam masyarakat Indonesia dewasa ini, menurut Koentjaraningrat (dari Wayan Ardhana, 1998: Modul 1/71-72) paling sedikit dapat dibedakan menjadi enam tipe sosial-budaya sebagai berikut:
a) Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu, dan belum mempunyai kebiasaan menanam padi. Sistem dasar kemasyarakatannya berupa desa terpencil tanpa difensiasi dan stratifikasi yang berarti. Masyarakat ini tidak mengalami kebudayaan perunggu, kebudayaan Hindu dan agama Islam.
b) Tipe masyarakat pedesaan berdasar bercocok tanam diladang atau disawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dadar kemasyarakatannya adalah komunikasi petani dengan diferensiasi dan stratifikasi social sedang, dan yang merasakan diri sebagai bagian bawah dari suatu kebudayaan yang lebih besar. Gelombang pengaruh kebudayaan Hindu dan agama Islam tidak dialami. Arah orientasinya adalah masyarakat kota dengan peradaban kepegawaian.
c) Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan system bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem kemasyarakatannya adalah desa komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial sedang gelombang pengaruh kebudayaan Hindu tidak dialami atau sangat kecil, sehingga terhapus oleh pengaruh agama Islam. Arah orientasinya adalah masyarakat kota yang mewujudkan peradaban bekas kerajaan berdagang dengan pengaruh Islam, bercampur dengan peradaban kepegawaian.
d) Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem bercocok tanam di sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah komunitas petani dengan deferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak kompleks. Masyarakat ini mengalami semua gelombang pengaruh kebudayaan asing, seperti kebudayaan Hindu, agama Islam, dan Eropa. Arah orientasinya adalah masyarakat kota yang mewujudkan peradaban kepegawaian.
e) Tipe masyarakat pekotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan industri yang lemah. Tipe masyarakat metropolitan yang mengembangkan sektor perdagangan dan industri, tetapi masih didominasi oleh aktivitas kehidupan pemerintahan dengan suatu sektor kepegawaian yng luas dan kesibukan politik di tingkat daerah ataupun pusat.

Terdapat sejumlah lembaga kemasyarakatan dan atau kelompok sosial yang mempunyai peraan dan fungsi edukatif yang besar, antara lain: kelompok sebaya, organisasi kepemudaan (pramuka, karang taruna, remaja masjid, dan sebagainya), organisasi keagamaan, organisasi ekonomi, organisasi politik, organisasi kebudayaan, media massa, dan sebagainya.

Setelah keluarga, kelompok sebaya mungkin paling besar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian, terutama padasaat anak berusaha melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan orang tua. Peralihan dari dominasi pengaruh keluarga ke arah dominasi pengaruh kelompok sebaya seringkali disertai oleh adanya konflik dan ketegangan yang bersumber dari pihak anak maupun dari pihak orang tua. Yang dimaksud kelompok sebaya (peers group) adalah suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang bersamaan usianya antara lain: klompok bermain pada masa kanak-kanak, kelompok monoseksual yang hanya beranggotakan anak-anak dari kedua jenis kelamin, atau gang yaitu kelompok anak-anak nakal. Dampak edukatif dari keanggotaan dalam kelompok sebaya itu antara lain karena interaksi sosial yang intensif dan dapat terjadi setiap waktu, dan dengan melalui peniruan (model) serta mekanisme penerimaan/penolakan kelompok. Terdapat beberapa fungsi kelompok sebaya terhadap anggotanya (Wayan Adharna, 1998:moduss 5/19) antara lain: (a) mengajar berhubungan dan menyesuaikan diri dengan orang lain, (b) memperkenalkaan kehidupan masyarakat yang lebih luas, (c) menguatkan sebagian dari nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat orang dewasa, (d) menmberikan kepada anggota-anggotanya car-cara untuk membebaskan diri dari pengarung kekuaasaan otoritas, (e) memberikan pengalaman utuk mengadakan hubungan yang didasarkan pada prinsip persamaan hak, (f) memberikan pengetahuan yang tidak bisa diberikan oleh keluarga secara memuaskan (pengetahuan mengenai citarasaberpakaian, musik, kenis tin gkah laku tertentu dan lain-lain), dan (g) memperluas cakrawala pengalaman anak, sehingga ia menjadi orang yang lebih kompleks.
Organisasi kepemudaan pada umumnya mempunyai dasar yang sama yakni menyalurkan hasrat berkelompok dari pemuda kepada hal-hal yang berguna. Organisasi ini mempunyai berbagai jenis dengan latar yang berbeda, seperti sosial-edukatif (OSIS,Pramuka, PMR, patroli keamanan sekolah, dan senagainya), sosial keagamaan, sosial politik, dan sebagainya. Disamping penambahan pengetahuan dan keterampilan, organisasi kepemudaan tersebut terutama sangat bermanfaat dalam membantu proses sosialisasi sertamengembangkan aspek efektif dari kepribadian (kejujuran, disiplin tanggung jawab dan kemandirian).
Peranan organisasi keagamaan pada umumnya sangat penting karena berkaitan dengan keyakinan agama. Karena semua organisasi keagamaan mempunyai keinginan untuk melestarikan keyakinan agama anggota-anggotanya, maka organisasi tersebut menyediakan program pendidikan kepada anak-anaknya(a) mengajarkan keyakinan serata praktek-praktek keagamaan dengan cara memberikan pegalaman-pengalaman yang menyenangkan bagi mereka, (b) menajarkan kepada mereka tingkah laku dan prinsip-prinsip moral yang sesuai dengan keyakinan-keyakinan agamanya, (c) memberikan model-model dari perkembangan watak (Wayan Arhada, 1986:Modul 5/18). Meskipun ada organisasi-organisasi keagamaan yang anggota-anggotanya terdiri dari kelas-kelas sosial atau kelas etnis tertentu, pada umumnya organisasi-organisasi keagamaan ini memiliki anggota yang terdiri dari berbagai kelompok sosial atrau etnis (suku bangsa), sehingga akan berperan mengembangkan saling pengertian dan kerjasama antar kelompok sosial atau etnis tersebut. Seperti diketahui, Pemerintahan RI mengusahakan dengan sungguh-sungguh kerukunan inter dan antar umat beragama di Indonesia. Perlu dikemukakan salah satu faktor dalam lingkungan masyarakat yang makin penting peeranannya yakni media massa, radio, dan televisi.



C.    PENGARUH TIMBAL BALIK ANTARA TRIPUSAT PENDIDIKAN TERHADAP PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK.
     Perkembangan peserta didik, seperti juga tumbuh kembang anak umumnya, dipengaruhi oleh berbagai factor yakni hereditas, lingkungan, proses perkembangan dan anugrah. Khusus untuk fator lingkungan peranan tri pusat pendidikan itulah yang paling menetukan , baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama. Dikaitkan dengan tiga poros kegiatan utama pendidikan (membimbing, mengajar, dan atau melatih), peranan ketiga tri pusat pendidikan itu bervariasi meskipun ketiganya melakukan tiga kegiatan pokok dalam pendidikan tersebut. Kaitan antara tri pusat pendidikan dengan tiga kegiatan pendidikan untuk mewujudkan jati diri yang mantap, penguasaan pengetahuan, dan pemahiran ketrampilan dilukiskan pada bagan 3.1. berikut:


PENGAJARAN



PENGETAHUAN
PEMBIMBINGAN


PRIBADI:
JATI DIRI
PELATIHAN
KELUARGA
MASYARAKAT
SEKOLAH
KETERAMPILAN
 















Gambar 3.1. Bagan Saling Pengaruh Tripusat Pendidikan
terhadap perkembangan peserta didik.

Dari gambar 3.1. tersebut dituliskan bahwa setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberi kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni (1) pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya, (2) pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan, dan (3) pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan. Kontribusi itu akan berada pada bukan hanya antar individu, tetapi juga faktor pusat pendidikan itu sendiri yang bervariasi di seluruh wilayah nusantara. Namun kecenderungan umum, utamanya pada masyarakat modern, bahwa kontribusi keluarga  pada aspek penguasaan pengetahuan dan pemahiran keterampilan makin mengecil di bandingkan dengan kontribusi sekolah dan masyarakat. Disamping peningkatan kontribusi setiap pusat pendidikan terhadap perkembangan peserta didik, diprasyaratkan pula keserasian antar kontribusi itu, serta kerjasama yang erat dan harmonis antar Tripusat Pendidikan tersebut. Dengan kontribusi tripusat pendidikan yang saling memperkuat dan saling melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu.
Terdapat salah satu masalah yang banyak dibicarakan yakni sekolah sebagai produk masyarakat modern sering membawa dampak negatif karena secara terselubung menghantar generasi terdidik ke kota-kota besar. Seperti diketahui, dislokasi sekolah itu adalah makin tinggi jenjang sekolah itu makin dekat ke kota besar sehingga perguruan tinggi pada umumnya di ibukota propinsi. Hal itu membawa dampak negative yakni terpusatnya tenaga kerja terdidik di daerah perkotaan, dan hanya sedikit yang kembali kedaerah pedesaan. Program-program kuliah kerja nyata (KKN), pepengerahan sarjana sukarela kepedesaan, dan sebagainya belum berhasil mengatasi persoalan itu. Oleh arena itu terdapat berbagai pendapat yang diarahkan pada perbaikan program persekolahan, khususnya kurikulum agar lebih diorientasikan pada kebutuhan daerah yang bersangkutan.
Selain kurikulum terdapat juga muatan local yang berkaitan dengan penyampaian kurikulum itu. Dalam Petunjuk Penerapan Muatan Lokal Kurikulum SD (Lampiran Kep.Men.Dikbud No. 0412/U/1987) dikemukakan beberapa tujuan yang lebih rinci dari muatan local tersebut yang dapat dikategorikan dalam dua kelompok sebagai berikut:
1. Tujuan-tujuan yang segera dapat dicapai, yakni (a) bahan pengajaraan lebih mudah diserap oleh murid, (b) sumber belajar didaerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, (c) murid dapat menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang ditemukan disekitarnya, (d) murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan social dan lingkungan budaya yang terdapat didaerahnya.
2. Tujuan-tujuan yang memerlukan waktu yang relative lama untuk menncapainya, (a) murid dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya, (b) murid diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, (c) murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.
Berdasarkan tujuan muatan lokal, perluasan dan peningkatan muatan lokal dilakukan dengan memperhatikan: (1) GBPP yang berlaku, (2) sumber daya yang tersedia, (3) kekhasan lingkungan (alam, sosial, dan budaya) dan kebutuhan daerahnya, (4) mobilitas murid, dan (5) perkembangan dan kemampuan murid (Kep.Men.Dikbud No. 0412/U/1987 ps.6). dengan demikian, pendidikan akan mampu melaksanakan secara serentak fungsi pelestarian kebudayaan dan fungsi pengembangan dari kebudayaan yang diembannya itu. Dan seiring dengan itu, sekolah sebagai pusat pendidikan akan lebih dekat dengan pusat-pusat lainnya yakni keluarga dan masyarakat. Dengan demikian tripusat pendidikan itu diharapkan dapat menunaikan tugasnya untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya dan membangun seluruh masyarakat Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar